Scroll TikTok, tiba-tiba muncul iklan skincare “must have.”
Buka Instagram, nemu outfit estetik yang “kayaknya gue banget.”
Masuk marketplace, liat tulisan “flash sale tinggal 2 menit” — dan boom, jari refleks klik checkout.
Kedengeran familiar?
Kalau iya, kamu gak sendiri. Di era digital, belanja online udah jadi bagian dari gaya hidup. Praktis, cepat, dan menggoda. Tapi sayangnya, juga bikin banyak orang jadi boncos tanpa sadar.
Masalahnya bukan di aplikasinya, tapi di cara kita ngatur keinginan. Makanya, artikel ini bakal bahas tuntas tips anti boncos saat belanja online biar kamu tetap bisa enjoy belanja, tapi gak nyesel tiap liat saldo menipis.
Kenapa Belanja Online Bisa Bikin Boros
Sebelum belajar ngontrol, kamu harus tahu dulu kenapa belanja online itu bisa bikin kecanduan dan boros parah.
- Algoritma tahu kelemahanmu.
Tiap klik, tiap search, semuanya direkam. Sistem tahu banget kamu suka apa, dan langsung ngasih rekomendasi produk mirip — bikin kamu sulit resist. - Promo yang dirancang buat bikin impulsif.
Flash sale, countdown timer, cashback besar — semuanya strategi psikologis buat bikin kamu ngerasa “kalau gak beli sekarang, rugi.” - Transaksi terlalu mudah.
Satu klik bisa langsung bayar. Gak ada rasa kehilangan fisik kayak bayar cash, jadi gak terasa “kehilangan uang.” - FOMO (Fear of Missing Out).
Liat orang lain review barang bagus, kamu ngerasa harus punya juga. Padahal gak semua hal yang cocok buat orang lain cocok buat kamu.
Dengan kata lain, dunia digital emang dirancang buat bikin kamu belanja terus. Tapi kabar baiknya, kamu bisa ngelawan itu dengan strategi yang cerdas dan sadar diri.
Langkah 1: Bikin Anggaran Belanja Online Khusus
Kalau kamu gak mau boncos, langkah pertama adalah punya anggaran khusus belanja online.
Jangan semua uang dijadikan “uang belanja.”
Contoh realistis:
- Alokasikan 10–15% dari penghasilan buat belanja online.
- Kalau gaji Rp4 juta, berarti Rp400–600 ribu per bulan.
Bikin batas tegas: kalau anggaran itu habis, stop belanja sampai bulan depan.
Disiplin kayak gini keliatan sepele, tapi efeknya gede banget buat keuanganmu.
Langkah 2: Pahami Pola Belanja Emosionalmu
Coba jujur deh: kapan kamu paling sering belanja online?
Pas bosen? Pas sedih? Atau pas baru gajian?
Sebagian besar orang belanja bukan karena butuh, tapi karena emosi.
Itu yang disebut emotional spending.
Solusinya:
- Kalau lagi stres, jangan langsung buka marketplace.
- Simpan dulu barang di keranjang, pikirin 24 jam.
- Biasakan nanya ke diri sendiri: “Aku beneran butuh ini gak sih?”
Kalau keinginan itu ilang besok, berarti kamu cuma pengen, bukan butuh.
Langkah 3: Uninstall Aplikasi atau Matikan Notifikasi
Salah satu penyebab utama boncos adalah notifikasi promo.
“Diskon 50%! Gratis ongkir tanpa minimal!” — kata-kata itu lebih berbahaya dari mantan yang ngajak balikan.
Coba trik ini:
- Hapus aplikasi marketplace dari HP kamu.
- Atau matiin notifikasi promo dan flash sale.
- Belanja cuma lewat browser saat bener-bener butuh.
Kamu bakal kaget seberapa banyak uang yang bisa kamu hemat cuma dengan gak liat notifikasi itu tiap hari.
Langkah 4: Bedain Antara Butuh dan Pengen
Ini klasik tapi krusial banget.
Sebelum klik “beli sekarang,” tanyain ke diri kamu:
“Kalau barang ini gak ada, hidupku terganggu gak?”
Kalau jawabannya enggak, berarti itu cuma keinginan.
Boleh sih sesekali indulging, tapi jangan tiap hari.
Kamu bisa pake sistem 3 hari pending.
Masukin ke wishlist, tunggu 3 hari. Kalau masih pengen banget setelah itu, baru beli. Kalau enggak, delete aja.
Langkah 5: Gunakan 1 Kartu Khusus untuk Belanja Online
Salah satu trik anti boncos paling efektif adalah pisahin uang belanja dari uang kebutuhan utama.
Caranya:
- Bikin 1 e-wallet atau rekening khusus buat belanja.
- Isinya sesuai anggaran bulanan (misal Rp400 ribu).
- Jangan top up lagi kalau udah habis.
Dengan begitu, kamu bisa belanja tanpa rasa bersalah tapi tetap aman secara finansial.
Langkah 6: Hati-Hati Sama “Gratis Ongkir” dan Cashback Bohongan
Banyak orang ngerasa hemat karena “gratis ongkir” atau “cashback,” padahal ujungnya malah boros.
Kenapa? Karena mereka jadi beli barang yang gak perlu cuma biar dapet promo itu.
Ingat, hemat itu bukan karena diskon, tapi karena gak belanja hal gak penting.
Kalau kamu gak butuh barangnya dari awal, diskon 99% pun tetep boros.
Langkah 7: Hapus Kartu Tersimpan di Marketplace
Kartu debit/kredit yang tersimpan di akun bikin belanja makin impulsif karena kamu bisa bayar tanpa mikir panjang.
Solusinya simpel: hapus data pembayaran otomatis.
Dengan begitu, tiap mau belanja kamu harus isi manual.
Dan di momen itu, otakmu punya waktu buat mikir, “Worth it gak sih beli ini?”
Langkah 8: Belanja di Hari Tertentu Saja
Biasain belanja terjadwal.
Misalnya, cuma belanja tiap tanggal 10 atau tanggal 25 (setelah gajian).
Cara ini bikin kamu gak kebiasaan “check out kecil-kecilan” setiap hari.
Karena jujur aja, belanja kecil tapi sering itu lebih bahaya daripada sekali besar tapi terencana.
Langkah 9: Gunakan Wishlist Sebagai “Filter Emosi”
Alih-alih langsung beli, masukin dulu ke wishlist.
Kadang, rasa pengen beli itu cuma sementara.
Coba trik ini:
- Masukin barang ke wishlist.
- Liat lagi setelah seminggu.
- Kalau masih pengen dan sesuai budget, baru beli.
Biasanya 70% barang wishlist kamu bakal terasa gak penting setelah lewat beberapa hari.
Langkah 10: Punya Tujuan Finansial yang Lebih Besar
Kalau kamu punya tujuan finansial, kamu bakal lebih mudah menahan diri.
Contohnya:
- Nabung buat traveling ke luar negeri.
- Pengen beli motor atau rumah kecil.
- Mau mulai investasi rutin.
Setiap kali tergoda belanja, ingat tujuan itu.
Tanya ke diri sendiri:
“Barang ini lebih penting dari mimpiku gak?”
Kalimat sederhana, tapi bisa nyelametin kamu dari pengeluaran gak penting.
Langkah 11: Cek Keranjang Sebelum Checkout
Jangan langsung bayar begitu barang masuk keranjang.
Cek lagi satu-satu:
- Apakah aku udah punya barang serupa?
- Apa ini impulsif?
- Apa ini masuk anggaran bulan ini?
Biasanya, setelah dicek ulang, 30–50% isi keranjang itu bisa kamu hapus dengan lega.
Langkah 12: Manfaatkan Promo dengan Bijak
Boleh banget pakai promo, asal kamu yang kontrol, bukan sebaliknya.
Tips bijak pakai promo:
- Gunakan buat barang kebutuhan (misalnya skincare rutin atau alat rumah tangga).
- Hindari promo waktu tengah malam — otak kamu gak rasional di jam itu.
- Cek harga sebelum dan sesudah promo (kadang “diskon” itu palsu).
Kalau kamu cerdas, promo bisa bantu kamu hemat tanpa bikin dompet bocor.
Langkah 13: Terapkan Prinsip Delay Gratification
Konsep ini simpel tapi powerful:
Tunda kepuasan sekarang demi hasil lebih besar nanti.
Misalnya:
Daripada beli sepatu Rp600 ribu yang gak urgent, simpen uang itu buat nambah modal investasi.
Rasa puasnya mungkin gak langsung, tapi hasilnya jauh lebih besar.
Belanja itu boleh, tapi biar jadi “hadiah,” bukan “pelarian.”
Langkah 14: Gunakan Catatan Pengeluaran Digital
Catat semua transaksi belanja online kamu.
Sekecil apa pun.
Begitu kamu sadar udah habisin Rp500 ribu cuma buat hal kecil kayak case HP, pouch, dan boneka lucu, kamu bakal lebih berhati-hati bulan depan.
Catatan itu bikin kamu melek dan tanggung jawab sama keputusan finansial sendiri.
Langkah 15: Belajar Nikmatin Hidup Tanpa Belanja
Sering kali kita mikir “self-care” harus identik sama belanja.
Padahal gak juga.
Coba ganti kebiasaan:
- Jalan sore tanpa beli apapun.
- Denger musik, nonton film gratis, journaling.
- Nongkrong sama temen tanpa harus “beli sesuatu.”
Belanja bisa jadi hiburan, tapi bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyain)
1. Kenapa aku gampang banget tergoda belanja online?
Karena sistemnya memang dirancang buat itu. Tapi kalau kamu sadar polanya, kamu bisa kontrol balik.
2. Gimana cara ngurangin impulsif belanja?
Gunakan aturan 24 jam atau 3 hari sebelum beli barang yang gak penting.
3. Apa salah kalau sesekali beli barang impulsif?
Enggak, asal masih dalam batas anggaran. Jangan sampe ngorbanin kebutuhan penting.
4. Harus hapus semua aplikasi marketplace gak?
Gak harus, tapi minimal batasi waktu akses dan matiin notifikasi promo.
5. Apa boleh pakai PayLater buat belanja?
Kalau gak bisa bayar penuh bulan depan, jangan. PayLater itu bukan penyelamat, tapi jebakan.
6. Gimana biar gak FOMO pas liat promo besar-besaran?
Ingat, promo itu selalu datang lagi. Tapi uang kamu gak selalu datang lagi.
Kesimpulan
Belanja online itu gak salah — yang salah kalau kamu gak punya kontrol.
Kamu bisa tetap nikmatin kemudahan digital tanpa harus jadi korban iklan dan promo.
Ingat prinsip penting ini:
- Punya anggaran khusus belanja online.
- Pahami pola belanja emosionalmu.
- Gunakan wishlist dan delay gratification.
- Belanja dengan rencana, bukan karena dorongan sesaat.
Dengan tips anti boncos saat belanja online ini, kamu bisa tetap tampil keren, tetap happy, tapi juga tetap aman secara finansial.
Karena di dunia digital yang serba cepat, orang yang menang bukan yang paling sering belanja — tapi yang paling bisa nahan diri.



